Type Here to Get Search Results !

Fakta: Orang asli Papua dimiskinkan, Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

ABJECT POVERTY OF INDIGENOUS PEOPLE OF WEST PAPUA

"Kemiskinan yang sangat parah penduduk orang asli Papua Barat"


Indonesia menduduki, menjajah dan menindas Penduduk Orang Asli Papua Barat (POAP) sejak 19 Desember 1961 melalui Maklumat Trikora Ir. Sukarno 1961 yang menganeksasi Kemerdekaan bangsa Papua Barat 1 Desember 1961 yang lengkap dengan simbol-simbol Negara dan disaksikan oleh lima negara merdeka: Inggris, Francis, Australia, Belanda dan Papua New Guinea (PNG).
Kemerdekaan 1 Desember 1961 itu juga dibunuh dengan New York Agreement 15 Agustus 1962 tanpa melibatkan perwakilan POAP.
Hari kemerdekaan 1 Desember 1961 itu juga semakin dijauhkan dengan penyerahkan sepihak dari United Nation Temporary Administration (UNTEA) kepada bangsa kolonial Indonesia pada 1 Mei 1963 yang disebut juga hari dimulainya malapetaka brutal dan kejam terhadap POAP
Kedaulatan rakyat dan bangsa Papua Barat itu juga digelapkan dengan Pelaksanaan Pepera pada 14 Juli-2 Agustus 1969 yang dimenangkan oleh ABRI (kini:TNI).
Semua proses politik yang paling jahat dan kejam ini dengan tujuan untuk menguasai dan merampok sumber daya di Tanah Papua Barat dan manusia dimiskinkan secara permanen dan sekaligu dibantai seperti hewan dengan label sosial dan stigma politik: anggota gpk, gpl, opm, separatis, makar, monyet, kkb, dan teroris.
Perampokkan dan pencurian Sumber Daya Alam secara masif, sistematis, meluas, dan kolektif dengan membangun Smelter di Jawa Timur yang menampung pekerja orang-orang Melayu yang tidak punya hak atas smelter itu 40.000 karyawan".
Keadaan dan kehidupan POAP sangat buruk ini digambarkan oleh Romo Franz Magnis-Suseno dan Pastor Frans Lieshout, OFM sebagai LUKA MEMBUSUK DAN BERNANAH di dalam tubuh bangsa Indonesia.
...Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia...."
"Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia." ( Prof. Franz Magnis-Suseno: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: 2015, hal. 255).
Pastor Frans Lieshout melihat bahwa "Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia." (Sumber: Pastor Frans Lieshout OFM: Gembala dan Guru Bagi Papua, (2020:601).
Tanah Papua Barat dimasukkan ke dalam mulut harimau atau singa Indonesia dengan moncong senjata dan juga melalui proses politik konspirasi internasional yang melibatkan Amerika, Belanda, Indonesia dan PBB.
Abject Poverty of indigenous people of West Papua atau Kemiskinan yang sangat parah penduduk orang asli Papua Barat ini memang diciptakan dengan ruthlessly (kekejaman tanpa ampun) dari penguasa kolonial Indonesia yang lalim, bengis dan berkarakter seperti binatang buas.
Kebrutalan, kekejaman, kelaliman dan kebuasan penguasa Indonesia adalah fakta yang sulit dibantah. Untuk merampok sumber daya alam dengan mulus tanpa hambatan dan halangan penguasa kolonial Indonesia menciptakan label atau stigma sosil dan politik untuk menekan POAP supaya tidak melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Indonesia di Papua Barat.
A.C. Manulang pengamat Intelijen, mantan Direktur Badan Koordinator Intelijen Negara(BAKIN) pernah mengatakan:
“Bukan tidak mungkin dan jarang terjadi jika berbagai kerusuhan di berbagai daerah terlepas dari aktor intelektual dari Jakarta. ….Ini tidak terlepas dari kepentingan elit di Jakarta”. (Sumber: Indopos, 04 November 2012).
Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B. Ponto mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (KABAIS) TNI sejak tahun 1996-2014 dan Laksamana Muda TNI (Purn) Iskandar Sitompul melalui saluran Iskandar Sitompul Publika-Poscast membongkar aib, borok, kebusukan dan rahasia operasi militer dan mitos, stigma dan label yang diproduksi militer Indonesia di Papua Barat.
Laksamana Muda (TNI) Soleman B. Ponto mengatakan:
“Kita (TNI) yang memberi nama KKB, KSB. Sekarang ini, suka-suka memberi nama..”
Laksamana Muda TNI (Purn) Iskandar Sitompul mengatakan:
“Seperti dulu, kami kasih nama GPK. Saya masih ingat di kepala saya sampai sekarang.”
Dari komentar A.C. Manulang, Soleman B. Ponto dan Iskandar Sitompul dapat ditarik kesimpulan tentang siapa yang sesungguhnya mempunyai kepentingan di Tanah Papua Barat. Dengan kata lain, komentar ini dapat memberikan gambaran jelas para pelaku kejahatan kemanusiaan di Papua Barat.
Salah satu bukti perampokan atau pencurin sumber daya alam Papua, yaitu
Presiden Joko Widodo meresmikan produksi smelter PT Freeport Indonesia yang digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik JIIPE, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, pada 23 September 2023.
Penduduk Orang Asli Papua Barat (POAP) pemilik tambang ini mendapat apa? Karena Smelter dibangun di negara asing, Indonesia, jarak antara Papua Barat-Jawa Timur 2.879 km dan menempuh 8 jam dan 7 menit.
Penguasa kolonial firaun Indonesia berwatak sama dengan kolonial Belanda pada waktu menjajah Indonesia, Belanda menjarah, merampok dan mencuri sumber daya alam di Indonesia dan diangkut ke Negeri Belanda.
Abject Poverty of indigenous people of West Papua atau Kemiskinan yang sangat parah penduduk orang asli Papua Barat ini memang diciptakan secara sadar oleh penguasa kolonial yang berkarakter dan berwatak bengis, kejam, lalim dan buas tidak ada rasa perikemanusiaan.
Proses pemiskinan dan pemusnahan etnis penduduk orang asli Papua Barat dengan merampok sumber daya alam ini terlihat juga dengan komentar dari seorang jenderal yang lalim dan bengis ini.
Jendral TNI purn. Ali Murtopo pada 2 Agustus 1969 di Jayapura kepada peserta Dewan Musyawarah Pepera (DMP) mengancam dan mengatakan:
“Kalau mau merdeka sebaiknya tanyakan pada Tuhan apakah dia bisa berbaik hati membesarkan pulau di tengah Samudra Pasifik supaya bisa bermigrasi ke sana. Bisa juga tulis orang Amerika. Mereka sudah menginjakkan kaki di bulan, mungkin mereka akan bersedia menyediakan tempat untuk Anda di sana. Anda yang berpikir untuk memilih menentang Indonesia harus berpikir lagi, karena jika Anda melakukannya, murka rakyat Indonesia akan menimpa Anda. Lidah Anda pasti akan dipotong dan mulut jahat Anda akan digoyak. Lalu aku, Jenderal Ali Murtopo, akan masuk dan menembakmu di tempat "(Sumber: SEE NO EVIL: New Zealand's Betrayal of the people of West Papua: Maire Leadbeater: 2018: 154).
Jenderal ini juga mengatakan: "Kami hanya butuh TANAH ini, kami tidak perlu dengan kamu orang-orang Papua."
Akhir dari tulisan ini, saya mengutip kutipan pernyataan seorang pendeta mantan tahanan dari kekejaman penguasa Apartehid di Afrika Selatan yang diabadikan oleh Alm. Arbishop Desmond Tutu dalam bukunya: "Desmond Tutu The Rainbow People of God: The Making of a Peaceful Revolution" sebagai berikut:
"By the way, these are God's children and the are behaving like animals. They need us to help then recover the humanity they have lost" ( 1994:124).
Terjemahan bebas seperti ini:
"Omong-omong, ini adalah anak-anak Tuhan dan mereka berperilaku seperti binatang. Mereka membutuhkan kita untuk membantu memulihkan kemanusiaan mereka yang telah hilang" (1994:124).
Apakah para penguasa Indonesia, TNI, Kepolisian Indonesia telah kehilangan sebagian kemanusiaan mereka dan sebagaian seperti hewan dan binatang sehingga memperlakuan POAP tidak adil, kejam dan tidak manusiawi, barbar selama ini dengan stigma dan label Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), Gerakan Pengacau Liar (GPK), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Separatis, Makar, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan Teroris?
Mayon Sutrisno mengatakan:
"Bagaimana pun bodoh dan primitifnya suatu bangsa, mereka akan tumbuh, berkembang dan memiliki naluri mempertahankan hidup" (Sumber: Arus Pusaran Soekarno: Roman Pergerakan, 1985:122).
Pdt. I.S. Kijne bernubuat:
"Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tudak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri" (Wasior, Manokwari, 25 Oktober 1925).
Uskup Dom Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB mengatakan:
"......dalam realita kalau sudah menyangkut pribadi manusia, walaupun dengan alasan keamanan nasional, Gereja akan memihak pada person karena pribadi manusia hanyanya lebih tinggi daripada keamanan negara atau kepentingan nasional".
(Sumber: Frans Sihol Siagian & Peter Tukan: Vioce of the Voiceless (Suara Kaum tak Bersuara) Penerbit Obor, 1997:127).
Terima kasih. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.
Ita Wakhu Purom, 5 April 2025
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Amggota: Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).
______________
Kontak: 08124888458

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Hollywood Movies